Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pengertian dan Makna Kajeng Kliwon Yang Dikramatkan Bagi Umat Hindu Di Bali

Pengertian dan Makna Kajeng Kliwon Yang Dikramatkan Bagi Umat Hindu Di Bali

Pict . Yande zetia/ ilustrasi


Kajeng Kliwon adalah pertemuaan antara Tri Wara dan Panca Wara, dimana Tri Waranya adalah Kajeng dan Panca Waranya adalah Kliwon. Hari suci Kajeng Kliwon dirayakan setiap 15 hari. Pertemuan antara Kajeng dengan Kliwon, diyakini sebagai saat energi alam semesta yang memiliki unsur dualitas bertemu satu sama lainnya. Energi dalam alam semesta yang ada di Bhuwana Agung semuanya terealisasi dalam Bhuwana Alit atau tubuh manusia itu sendiri. Tentang kekeramatan dan kesakralan dari hari kajeng kliwon adalah pengaruh dari pertemuan harinya yaitu 

Pertemuan antara Tri Wara dan Panca Wara yang memiliki kekuatan Religiomagis, yaitu:

1. Hari Kajeng (Tri Wara), yaitu merupakan prabhawanya Sang Hyang Durga     Dewi sebagai perwujudan dari kekuatan “Ahamkara”, yang memanifestasikan     kekuatan Bhuta, Kala, dan Durga di Bumi.

2. Hari Kliwon (Panca Wara), yaitu merupakan hari prabhawanya Sang Hyang     Siwa sebagai perwujudan kekuatan Dharma yang memanifestasikan kekuatan    Dewa.
Dengan demikian menyatunya kekuatan Siwa dengan kekuatan Durga, maka lahirlah kekuatan Dharma Wisesa sehingga dari sini lahirnya Kesidhian, Kesaktian, dan Kemandhian yang selalu dikendalikan oleh kekuatan Dharma (Lontar Kala Maya Tattwa).

Rahinan Kajeng Kliwon diperingati setiap 15 hari sekali, dan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Kajeng Kliwon Uwudan (Kajeng Kliwon setelah bulan purnama)

2. Kajeng Kliwon Enyitan (Kajeng kliwon setelah bulan mati /tilem)

3. Kajeng Kliwon Pamelastali (Watugunung Runtuh,yang datang setiap 6 bulan sekali )

Kekuatan Dharma Wisesa  berupa kekuatan Kesidhian, Kesaktian, dan Kemandhian dari Rahna Kajeng Kliwon ini yang dipergunakan oleh penekun aliran “Putih dan Hitam untuk memperdalam dan menerapakan ilmunya.  Para Balian melakukan pengobatan yang bernuansa mistis Bali untuk menetralisir suatu penyakit seperti; Koreng, Gondongan, Bisul, dan penyakit Bebali yang sulit sembuh- sembuh. Maka sakit itu bisa dibuang. dengan cara menghaturkan segehan/ blabaran di penataran agung atau di pertigaan agung, Para Penekun Pengleakan memakai momen untuk memperdalam, menmbuat atau menyebarkan penyakit, juga dipakai sebagai harinya sebagai malam sangkep leak karena pada malam Kajeng Kliwon ini roh-roh jahat maupun para shakta aji pangliyakan akan berkumpul mengadakan puja bakti bersama untuk memuja Shiva, Durga dan Bhairawi. Hal ini biasanya dilaksanakan di Pura Dalem, Pura Prajapati atau di Kuburan.

Diyakini pada Kajeng Kliwon hendaknya menghaturkan segehan mancawarna. Tetabuhannya adalah tuak/ arak berem. Di bagian atas, di ambang pintu gerbang (lebuh) harus dihaturkan canang burat wangi dan canang yasa. 
Pict . Yande zetia/ilustrasi

Semuanya itu dipersembahkan kepada Dewi Durga. Segehan dihaturkan di tiga tempat yang berbeda yaitu:
1. Halaman Sanggah atau Merajan, atau di depan pelinggih  pengaruman, dan ini di tujukan pada Sang Bhuta Bhucari.

2. Kemudian di halaman rumah atau pekarangan rumah tempat tinggal, dan ini ditujukan kepada Sang Kala Bhucari

3. Kemudian yang terakhir adalah dihaturkan di depan pintu gerbang pekarangan rumah atau di luar pintu rumah yang terluar, ini ditujukan kepada     Sang Durgha Bhucari.

Maksud dan tujuan menghaturkan segehan ini merupakan perwujudan bhakti dan sradha kita kepada Hyang Siwa ( Ida Sang Hyang Widhi Wasa) telah mengembalikan (Somya) Sang Tiga Bhucari. Berarti kita telah mengembalikan keseimbangan alam niskala dari alam bhuta menjadi alam dewa (penuh sinar).

Sedangkan sekalanya kita selalu berbuat Tri Kaya Parisudha dan niskalanya menyomyakan bhuta menjadi dewa dengan harapan dunia seimbang.
Kalau manusia kuat dan mampu mengendalikan lima bhuta ini maka mereka akan menjadi sahabat manusia, dan sehatlah manusia. Tetapi kalau manusia mencemari unsur Panca Mahabhuta ini maka dimusuhilah dan krodalah dia menjadi Durga menyebabkan manusia menjadi sakit.

Bentuk Upacara Kajeng Kliwon
Pada saat Kajeng kliwon, Umat Hindu biasanya menghaturkan blabaran/segehan dan tipat dampulan di tempat-tempat tertentu. Seperti di dipelinggih Taksu, Ratu Ngurah dan di Penuun karang, sumur, di pemedalan dan bale peyadnyan. 

Banten tipat dampulan di haturkan di atas (pelinggih) baru kemudian menghaturkan segehan dibawah.
Fungsi Banten atau Upakara Hari Kajeng Kliwon
1 Segehan
Segehan artinya "Suguh" (menyuguhkan), dalam hal ini adalah kepada Bhuta Kala, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatif dari libah tersebut. Segehan adalah lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan (palemahan).

2 Tipat Dampulan
Tipat dampulan dilambangkan dengan kura-kura atau penyu bertelur. Fungsi dari menghaturkan tipat dampulan adalah mengingatkan kepada umat manusia bahwa jiwa seseorang yang digodok dengan berbagai pengalaman hidup, baik itu yang baik, suka maupun duka, manis maupun pahit, bahagia, bahkan sengsara akan mematangkan jiwanya. Kematangan jiwa ini disimbolkan dengan sifat-sifat kedewasaan.

Oleh karena itulah umat Hindu secara tekun dan kontinyu melasanakan Tri Kaya Parisuda,  menghaturkan persembahan serta memuja Hyang Siwa, untuk memohon kekuatan kesidian, kesaktian, kemandhian, serta kedharman sebagai kebutuhan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini 

Dari berbagai sumber

Posting Komentar untuk "Pengertian dan Makna Kajeng Kliwon Yang Dikramatkan Bagi Umat Hindu Di Bali"